Selasa, 28 Juni 2016

Puta Target


Dari kitab al furusiyah ibnul qayyim rahimahullah

Apabila tembakan anak panah memeleset ke kanan sasaran atau kirinya atau atasnya atau bawahnya, maka cari apa penyebabnya serta dari mana sumbernya. Apakah karena busur, atau tali, atau anak panah, atau angin, atau dari diri pemanah; yaitu cara memegang, atau kuncian tangan, atau cara melepas, atau cara membidik.

Setelah letak kesalahannya berhasil ditemukan, maka pemanah harus segera memperbaiki dan menghindarinya terjadi kembali. Lalu ia meneruskan memanah dengan membaca basmalah setiap kali melepaskan anak panah. Jika tepat mengenai sasaran maka ia harus mengucapkan hamdalah, memuji-muji Allah, dan berkata: “Ini karena keutamaan dari Allah.” Jika tembakannya memeleset maka ia tidak boleh merasa kecil hati, sempit hati, kesal, serta tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Kesalahan dalam hal ini lebih dicintai Allah daripada ketepatan pada permainan-permainan lainnya.

Ketika mengalami kegagalan dalam mengenai sasaran, seorang pemanah tidak boleh mencela busurnya, tidak pula anak panahnya, tidak pula dirinya, dan tidak pula gurunya; karena semua itu termasuk perbuatan zalim dan sikap permusuhan. Hendaknya ia mengedepankan sikap sabar dalam memanah walaupun masih banyak mengalami kegagalan, dengan demikian semoga Allah membalik kegagalannya menjadi keberhasilan. Hendaknya ia mengetahui bahwa kegagalan adalah awal keberhasilan dan buruk adalah awal dari bagus

(Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Al Furusiyah Al Muhammadiyah, Abad ke-14 Masehi).

Catatan: kesalahan dalam hal ini lebih dicintai Allah daripada ketepatan pada permainan-permainan lainnya. Hendaknya ia mengedepankan sikap sabar dalam memanah walaupun masih banyak mengalami kegagalan, dengan demikian semoga Allah membalik kegagalannya menjadi keberhasilan
Istiqomah dan sabar dlm thumbdraw walopun masih mencong2, goyang naga, meleset, belom bisa blind nocking, blom bisa fast shooting, blom bisa jarak jauh...

Semoga Allah membalik semua itu menjadi keberhasilan
Aamiin.

Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Sabtu, 25 Juni 2016

Manchu bow


Afwan, mau tanya

  1.  . Apa definisi horsebow?
  2.  . Dalam bahasa arab horsebow disebut apa?
  3.  . Apa kriteria busur dikatakan horsebow?

Jawaban:
Horsebow ini nama generik utk jenis busur berbagai peradaban Asia yg umum digunakan oleh para. Nama generik lain adalah busur komposit krn material pembentuknya. Busur pendek/short bow krn ukurannya

Busur reflex krn bentuknya (flek  melengkung, reflex dari melengkung ke suatu arah ditarik ke melengkung arah lawannya). Cirinya  terdiri dari   bagian   gagang/qabidh,   lengan/dustar,  . Segmen kaku di ujung nya/siyah.

Ciri  fisik. Dalam bahasa arab, horsebow dikenal dgn sebutan berdasarkan material pembentukanya atau busur komposit. Material pembentuknya secara tradisional terdiri dari   bahan utama otot/sinew (Sinew macem , domba, rusa, sapi, dll), kayu/bambu, tanduk, Yg direkat jadi satu.

Bahasa arabnya Masnu'ah, Mashnu'ah atau Murokkabah,

Lem buat laminasi, lem dri fish blader atau yg dri rebusan sinew? Paling bagus dari fish bladder, berikutnya sinew, Yang terbaik fish bladder, alternatif kedua lem sinew. Kdg dicampur keduanya.

Kalau skrg materialnya sudah banyak pake material dgn metode laminasi ,modern.
Horsebow ini pun nama generik, krn ada busur yg serup tp dl  sejarahnya jarang digunakan utk naik kuda spt busur Manchu.

Ada busur yg bentuknya di luar pakem horsebow tp sering digunakan utk berkuda spt busur yumi jepang... krn di jepang jarang tanduk jadi mekanika busurnya dibuat sedemikian serupa me,bentuk spt yumi yg skrng

Jadi kriteria horsebow secara umum

  1.  Secara sejarah terbukti digunakan oleh penunggang kuda secara intensif
  2. Terdiri dari   bagian gagang, dustar, siyah
  3. Busur komposit
  4. Busur reflex
Dgn pengecualian utk busur manchu dan yumi

Berburu kelinci

Tanya: Klo di iklim tropis kyk di indo, lem fish blader bakal lumer ga tuh?
Jawab: lem klo sdh kering ga bakal lumer.. kecuali ada kandungan airnya

Tanya: Busur yg di pake indian, termasuk horsebow gk chief?
Jawab: Indian kan pake longbow, atau flatbow, selfbow alias dari  1 bahan

Yang disebut panahan berkuda itu mampu menggunakan busur di atas kuda yg berlari kencang (gallop) dalam taktik hit and run dan memenuhi  rukun memanah cepat, tepat, kuat, selamat, dan melakukan tembakan berkali kali dgn cepat pada multiple target. Jadi... Kalo cuma nembak sekali dua kali, atau nembak sambil berenti, ya bukan horseback archery namanya.

Pake recurve, standard bow, compound skalipun ya bisa aja nembak di atas kuda. Tapi apakah bisa menembak dgn cepat melontarkan multipel arrow ke multiple target dimana kudanya sambil berlari cepat

Tanya: setau sy manchu digunakan berkuda jg chief.. knp koq dikecualikan pd keterangan di atas?
Jawab: Yang dimaksud busur manchu generasi akhir yg lbh berat dan panjang krn utk menembakkan arrow  panjang dan tebal.

Maksudnya gini, dlm satu genre busur berdasarkan budaya (dlm satu budaya busurnya bisa beda bentuk krn perbedaan fungsi warbow, flight dll) hampir semuanya bisa digunakan utk di atas kuda krn ukurannya yg relatif pendek

Manchu War

Tapi utk manchu, ada jenis manchu yg utk nembak proyektil gede gak bisa buat kuda krn ukurannya besar shg menyusahkan rider, walopun busur manchu ukuran yg lebih pendek dari busur tsb bisa. Ini klasifikasi yg pernah sy baca dari lukas novotny.

Kalo balik lg ke sniper, kriteria senjata sniper adalah ia dpt akurat di jarak yg lbh jauh dibanding senjata umumnya, agar ia dpt melemahkan lawan sebelum lawan masuk jarak tembaknya. Shg sniper punya waktu utk melarikan diri sebelum lawan masuk jarak tembaknya thd sniper tsb.

Tapi kalo cuma sekali tembak akurat, terus lawan dapat dgn mudah menyerang balik penembak tsb krn ia gak punya keunggulan jarak, bukan sniper namanya... itu keunggulan first shot aja.

Contoh: sniper diposisinya punya akurasi di 300  meter, kompi lawan bergerak sejumlah 10 org dgn senjata dgn jarak efektif 100  m.

Tembakan pertama sniper kena 1  org, tembakan kedua 2  org, tembakan ketiga 3  org, dan posisi sniper ketauan lawan, 7 pasukan yg tersisa lari sejauh 300  m menuju posisi sniper, dlm 100  meter perjalanan pertma lawan sniper msh bisa tembak 2  org lagi, ketika sniper dan lawan berjarak 200 meter lagi, sniper bisa melarikan diri,

sehingga ketika 5 org lawan sudah masuk jarak tembak 100  m thd posisi awal sniper, sniper udah balik ke markasnya dgn selamat...

Ini filosofi sniper.

#
Pertanyaan dari kelas sebelah bang:

Menyimpulkan materi diatas horsebow itu harus pendek dan ringan
Apakah ada standar panjang dan berat busur yg bisa disebut horsebow???

Jawab:

Hmmm itu relatif mas, tergantung budayanya, besar kecilnya org, ketersediaan bahan dll. Tapi kalo mau secara umum panjang itu dari 120-130 cm sampe 150-160 cm. Busur manchu ada yg 160 kalo gak salah. Yg dijual mariner itu 150 an. Ottoman flight bow ada yg 120 an ya, harus pake siper.

sumber: Grup WA Pencinta Horsebow - KPBI
Pengisi: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Kamis, 23 Juni 2016

Gambar 1, Anatomi Tangan

Gambar 2, Postur Teknik 30

Mazhab Abu-Hāshim memegang gagang dengan kemiringan yang akut (acute obliqueness), dengan menempatkannya di antara lekukan yang terbentuk oleh sendi kedua jari-jari telunjuk, tengah, manis dan kelingking tangan kiri serta yang terbentuk oleh sendi ketiganya, sementara ujung atas gagang menyentuh dasar jempol kiri dekat dengan ruas keduanya, dan ujung bawah gagang terletak pada suatu titik dengan jarak selebar satu setengah atau dua jari dari pergelangan tangan. Lalu tekankan otot-otot penggerak kelingking/hypothenar eminence (Lihat Gambar 1) pada gagang, kencangkan genggaman kelingking sekencang mungkin, lalu jari manis sedikit kurang dari kelingking, lalu jari tengah sedikit kurang dari jari manis, lalu jari telunjuk sedikit kurang dari jari tengah, sedangkan jempol tetap lepas dan berada baik di depan gagang maupun di belakangnya.

Metode ini diikuti oleh Orang Persia, terutama oleh para pemanah seperti Shāpūr dhu’l-Aktāf dan Bahrām Gur (keduanya adalah Raja Persia), dan oleh lainnya.

Mazhab Ṭāhir memegang gagang busur dengan seluruh telapak tangannya dengan lurus, tekanan diberikan pada gagang yang berasal dari kedua otot-otot penggerak jempol/thenar eminence (Lihat Gambar 1) dan otot-otot penggerak kelingking. Bahkan, ia biasa meletakkan gagang busur pada sendi dasar jari kelingking, manis, tengah dan telunjuk tangan kirinya dan menggenggamnya secara lembut dengan kelima jari-jemari setelah mendorong daging pada bagian dasar jari-jemari menuju bagian tengah telapak tangan, menempatkan ujung atas gagang di antara kedua ruas jempol, dan ujung bawah dalam lekukan antara kedua otot eminence. Lalu kencangkan genggaman hingga ujung jari-jemarinya memerah, dan tekankan pergelangan pada gagang dengan keras.

Mazhab Isḥāq memiliki kebiasaan menerapkan metode pertengahan di antara kedua metode memanah kedua pakar sebelumnya. Di mana mazhab ini meletakkan gagang pada sendi dari ruas kedua jari-jemari tangan kiri, sementara ujung atas gagang diletakkan pada ruas kedua jempol dan ujung bawahnya terletak pada telapak tangan dengan jarak selebar satu jari dari tulang pergelangan. Lalu jari kelingking, jari manis dan jari tengah tangan kiri dikencangkan dengan sangat erat, sedangkan jari telunjuk dibiarkan tetap longgar dan terletak di depan gagang maupun di belakangnya. Pengaturan jari-jemari ini mengikuti teknik 30 (Lihat Gambar 2) yang merupakan metode terbaik dalam memegang gagang busur.

Gambar 1: Anatomi Tangan
Gambar 2: Postur Teknik 30

Sumber: Kitab fi Bayan Fadl Alqaws Wassahm Waauwsufihima dan Kitab Ghunyah AthThulab fi Ma'rifat Rami AnNushab

Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Senin, 20 Juni 2016

Teknik Berdiri

Dalam khasanah memanah Daulah Islamiyah / Timur Tengah terdapat tiga cara berdiri:

Yang pertama adalah berdiri dengan menyamping di mana sasaran sejajar dengan bahu kiri dan kedua kaki berjarak sepanjang lengan bawah sang pemanah, ini adalah posisi berdiri dari Mazhab Abu Hashim Al Mawardi

Yang kedua adalah berdiri dengan frontal di mana sasaran diletakkan tepat di tengah kedua mata dan kedua kaki berjarak selebar telapak tangan sang pemanah, ini adalah posisi berdiri dari Mazhab Tahir Al Balkhi

Yang ketiga adalah berdiri dengan posisi pertengahan antara menyamping dan frontal di mana sasaran sejajar dengan mata kiri dan kedua kaki berjarak selebar satu jengkal sang pemanah, ini adalah posisi berdiri dari Mazhab Ishaq Ar Raqqi

Penggunaan Teknik Berdiri

Pentingnya mempelajari ketiga posisi berdiri ini adalah dalam rangka menghadapi berbagai kondisi dan situasi yang tidak terduga sehingga dapat tetap memanah dengan baik dalam posisi apapun, seperti contohnya:


  • Posisi menyamping cocok bagi seseorang yang sedang mendaki bukit atau gundukan/anak bukit atau tanah yang tinggi, karena kedua kakinya akan sesuai dengan posturnya yang sedang menanjak atau menuruninya, dan jika ia tergelincir karena sebuah batu, maka ia masih dapat bertumpu pada kaki kanannya.
  • Posisi frontal baik untuk target jarak dekat, menembak trik, dan penggunaan busur yang lemah, karena dapat memberikan akurasi yang baik.
  • Posisi pertengahan cocok untuk peperangan karena memberikan proteksi yang baik dan keleluasaan dalam menggunakan perisai, berburu karena memudahkan persembunyian atau saat mengendap, serta berbagai kepentingan lainnya.


Sumber: Kitab fi Bayan Fadl AlQaws Wassahm Waawsufihima dan Kitab Ghunyah AthThullab fi Ma'rifat Rami AnNushab

Oleh: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Minggu, 19 Juni 2016



Prinsip Panahan Dari Para Ahli Panahan (Hal-Hal Yang Harus Dikuasai Oleh Seorang Pemanah)

Menurut:
Abu Hashim Al Mawardi (abad 8 Masehi):
  1. Cara memegang busur (Bahasa Arab: qabḍah),
  2. Cara mengepal/kuncian (qaflah),
  3. Cara membidik (i‘timad),
  4. Cara melepaskan (iflat).

Thahir Al Balkhi (abad 8 Masehi):

  1. cara memegang busur,
  2. cara mengepal,
  3. cara membidik,
  4. cara memasang anak panah pada tali busur (tafwiq)
  5. cara melepaskan.

Ishaq Ar Raqqi (abad 9 Masehi):

  1. cara berdiri dengan menyamping di mana sisi badan menghadap target sehingga target menjadi sejajar dengan mata kiri,
  2. cara memasang tali busur,
  3. cara memasang anak panah pada tali busur,
  4. cara mengepal,
  5. cara memegang busur, 
  6. cara membidik,
  7. cara menarik busur dengan dijangkar di sekitar mulut,
  8. cara menjadikan mata panah berada pada ruas kedua jari jempol kiri,
  9. cara melepaskan,
  10. cara membuka tangan dari posisi menggenggam.

Abu Ja‘far Muhammad bin Al Hasan Al Harawi (abad 9 Masehi):

  1. cara memasang tali busur,
  2. cara memasang anak panah pada tali busur, 
  3. cara mengepal,
  4. cara memegang busur, 
  5. cara menarik busur,
  6. cara membidik,
  7. cara melepaskan.

Taybugha Al Ashrafi Al Baklamishi Al Yunani (abad 14 Masehi):

  1. cara memegang busur,
  2. cara mengepal,
  3. cara menarik busur,
  4. cara melepaskan,
  5. cara membidik, 
  6. cara memasang anak panah pada tali busur

B. Cabang Panahan (Hal-Hal Yang Membantu Menyempurnakan Keahlian Memanah)


  1. menarik busur dengan seimbang dan mantap,
  2. terkait kapasitas dari busur,
  3. terkait kapasitas tali busur,
  4. terkait kapasitas takikan anak panah yang dikaitkan pada tali busur,
  5. terkait kapasitas dari anak panah, 
  6. terkait daya lontar busur,
  7. terkait kemampuan memanah pada saat mengenakan pakaian perang secara lengkap,
  8. terkait keahlian memanah secara akurat, 
  9. terkait dampak kerusakan yang diderita oleh sasaran.


C. Rukun Panahan


  1. kecepatan,
  2. kekuatan,
  3. akurasi, dan
  4. perhatian terhadap pertahanan diri

Taybugha mengatakan rukun panahan ada 5:

  1. akurasi,
  2. daya hancur,
  3. kemampuan menembak jarak jauh,
  4. kecepatan, 
  5. perlindungan diri

D. Sifat Pemanah

Kesabaran dan kewaspadaan serta hal-hal yang menjadi prinsip-prinsip akhlak seorang Faris/Ksatria menurut Ibn Akhi Hizam seperti:


  1. Sikap takwa dan patuh kepada Allah,
  2. Sikap berani dan hati-hati, 
  3. Sikap penuh pertimbangan dan perhitungan yang presisi,
  4. Sikap sopan santun dan menghormati tata krama,
  5. Sikap sabar,
  6. Sikap tabah,
  7. Sikap hormat terhadap tugas dan tanggung jawab,
  8. Sikap rendah hati dan dermawan, dan
  9. Kemampuan untuk mengatasi rasa takut.

E. Para Ahli Panahan

Para ahli panahan yang terdokumentasi:

  1. Shapur II Dzul Aktaf (Raja Persia Sasaniyah abad 4 Masehi)
  2. Bahram Gur (Raja Persia Sasaniyah abad 5 Masehi)
  3. Sa'ad bin Abi Waqqash rodhiyallahu'anhu (dari Hijaz, abad 7 Masehi)
  4. Abu Thalhah rodhiyallahu'anhu (dari Hijaz, abad 7 Masehi)
  5. Abu Hashim Al Mawardi (jaman Kekhalifahan Umawiyah awal abad 8), 
  6. Thahir Al Balkhi (dari Kota Balkh di Khurasan, jaman Kekhalifahan Abbasiyah akhir abad 8), 
  7. Ishaq Ar Raqqi (dari Kota Ar Raqqah di Iraq, jaman Kekhalifahan Abbasiyah awal abad 9),
  8. Abu Ja‘far Muhammad bin Al Hasan Al Harawi (dari Kota Herat, jaman Kekhalifahan Abbasiyah abad 9)
  9. Abu Muhammad Abdurrahman Ath Thabari (dari Thabaristan, jaman Kekhalifahan Abbasiyah abad 9)
  10. Taybugha Al Ashrafi Al Baklamishi Al Yunani (dari jaman Kesultanan Mamluk di abad 14 Masehi)
  11. Dan sebagainya...


Sumber: Kitab Fi Bayan Fadhl... dan Kitab Ghunyah...

oleh: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Pemanah Berkuda Indonesia)

Jumat, 17 Juni 2016



Memperhatikan masih adanya usaha-usaha posting tentang panahan yang tidak ada hubungannya dengan Busur Horsebow dan Teknik Thumb Draw, maka ada baiknya menjelaskan ulang apakah itu Busur Horsebow dan Thumb Draw.

Sebelum itu, untuk dapat paham secara utuh, perlu diketahui bahwa tradisi panahan di dunia ini tidaklah sama semuanya, tradisi panahan di dunia ini berbeda-beda menurut perkembangan kebudayaan dan peradabannya masing-masing.

Secara umum, ada 2 tradisi besar panahan, yaitu: Tradisi Barat dengan jenis busur dan teknik yang biasa digunakan orang-orang barat semenjak dahulu seperti tradisi peradaban Celtic/Galia, tradisi peradaban Romawi dan Yunani, tradisi peradaban Germanic, tradisi peradaban Norse/Viking, tradisi peradaban Slavia, dan sebagainya termasuk tradisi peradaban Barat Modern.


Serta ada Tradisi Timur dengan jenis busur dan teknik yang digunakan orang-orang timur seperti dalam tradisi peradaban Islam (Arab, Ottoman, Mamluk, Mughal, dsb), tradisi peradaban Stepa Asia Tengah (Mongol, Hun, Tatar dsb), tradisi peradaban Persia dan Indo-Arya (India), tradisi peradaban Semit dan Mesir Kuno, tradisi peradaban Timur Jauh (Jepang, Korea, China), tradisi peradaban Nusantara dan sebagainya.

Selain itu ada lagi tradisi-tradisi panahan yang skalanya minor atau telah punah seperti tradisi peradaban Afrika (barat, timur, tengah, selatan), tradisi peradaban Indian Amerika Utara, tradisi peradaban Amerika Selatan (Aztec, Inca, Maya), tradisi peradaban Aborigin dan sebagainya.
Sehingga masing-masing yang mempelajari tradisi memanah ini akan memiliki sanad keilmuan yang berbeda-beda jika dirunut ke masa lalu.

Teknik dan metode panahan yang dipelajari dalam grup ini adalah Tradisi Panahan Timur dengan menggunakan jenis Busur Horsebow dan teknik Thumb Draw.

Definisi Busur Horsebow: Busur Horsebow adalah istilah umum genre busur yang secara tradisi biasa digunakan sambil menunggang kuda dengan performa yang paling optimal, karena ada busur lain yang juga bisa digunakan di atas kuda namun tidak optimal. Busur horsebow ditandai dengan ukurannya yang relatif pendek, walau ada juga yang panjang, serta berbahan komposit: kayu/bambu, tanduk dan otot/sinew, dan terdiri dari 3 bagian utama yaitu: gagang, dustar (lengan yang dapat melengkung ketika busur ditarik) dan siyah (segmen kaku di ujung-ujung busur tempat mengaitkan tali busur). Serta disebut dengan busur reflex, karena busur ini umumnya berbentuk huruf C ketika belum dipasangkan tali, dan harus diregangkan untuk dipasangkan tali hingga menjadi bentuk lain yang didalamnya telah tersimpan energi potential pegas yang besar. (Gambar kiri dan kanan atas)

Definisi Thumb Draw: Teknik thumb draw adalah teknik memanah dengan menggunakan jempol untuk menarik tali busur. Dalam teknik ini, tali busur dikaitkan pada jempol yang diperkuat dengan kepalan seluruh tangan yang digunakan untuk menarik busur. Ciri lainnya adalah anak panah diletakkan di sisi kanan pada pangkal jempol tangan yang memegang busur, bukan di sisi kiri. Alat bantu yang diperlukan dalam teknik ini adalah pelindung jempol baik dalam bentuk kulit pelapis maupun cincin jempol atau thumb ring. (Gambar kiri dan kanan bawah)
Semoga mencerahkan

oleh: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Rabu, 15 Juni 2016




Dari Kitab Telhis-i Resailu'r-rumat karya Mustafa Kani, yaitu kitab panahan Utsmaniyah Turki*), dalam Bab Panutan Peralatan Seni Memanah dan dikutip dari Kitab As-Sunan**) karya Al Bayhaqi, disebutkan dalam suatu penjelasan hadits bahwa:

Sahabat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam, Ali bin Abi Thalib Rodhiyallahu'anhu mengajarkan memanah kedua putra beliau, yaitu Hasan dan Husayn Rodhiyallahu'anhuma semenjak usia dini. Dan untuk melindungi jempol kedua putranya yang masih lemah, beliau membuatkan keduanya pelindung jempol berupa cincin jempol (thumb ring) yang terbuat dari tanduk kambing.


*) Kitab Telhis-i Resailu'r-rumat adalah kitab panahan Utsmaniyah Turki karya Mustafa Kani yang diterbitkan tahun 1847 atas prakarsa Sultan Mahmud Khan bin Abdul Hamid yang memiliki perhatian besar terhadap panahan.

**) Kitab As-Sunan Al Kubra adalah kitab hadits yang disusun pada awal abad 11 Masehi, karya ulama Asy Syafiiyah bernama Ahmad bin Husayn Al Bayhaqi yang berasal dari Khurasan.

Oleh: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Selasa, 14 Juni 2016

mamluk warior


Kaidah Dalam Pelatihan Keahlian dan Kemampuan Fisik serta Furusiyyah (Berkuda, Memanah, Pedang dan Tombak)

Dikutip dari Kitab Al Furusiyyah karya Ibnul Qoyyim Rahimahullah, bahwa:

Ali bin Ja'd berkata: Syu'bah telah bercerita kepada kami, dia berkata: Qatadah telah mengabariku, dia berkata: Aku telah mendengar Abu 'Utsman An Nahdi, dia berkata: "Telah datang kepada kami surat dari Khalifah Umar bin Al Khattab ketika kami sedang berada di Azerbaijan bersama ‘Utbah bin Farqad Rodhiyallahu'anhum ajmain.

Amma ba'du:

"Hendaklah kalian memakai sarung, menggunakan selendang, bersandal, buanglah semua sepatu, buanglah semua celana, wajib atas kalian menggunakan baju bapak kalian, Isma'il. Jauhilah hidup bersenang-senang dan ciri-ciri orang 'Ajam. Wajib atas kalian mempergunakan panas matahari, karena ia adalah al hammam (pemandian) bagi bangsa Arab. Dan tama'daduu*). Pilihlah jalan hidup yang keras dan sulit, ikhlaulaquu (sigap, siap sedia), rusakkanlah semua pelana, naikilah kuda dengan melompat setinggi mungkin, dan panahlah tepat pada target-targetnya."

Ibnul Qoyyim berkata: Ini adalah pelajaran tentang furusiyyah dari beliau, Umar bin Al Khattab Rodhiyallahu'anhu, pelatihan fisik supaya bekerja keras dan tidak hidup mewah dan bersenang-senang, memegang teguh ciri khas putra-putra Isma'il bin Ibrahim, maka beliau perintahkan kepada mereka supaya memakai sarung, memakai selendang, bersandal, dan membuang semua sepatu; supaya kaki-kaki mereka terbiasa dengan panas dan dingin sehingga menjadi keras, kuat dan tahan terhadap gangguan dari keduanya.

*) Tama'daduu maksudnya: Peganglah jalan hidup Al Ma'addiyyah, yaitu adat-istiadat Ma'add bin 'Adnan (keturunan Nabi Isma'il ‘Alaihissalam) di dalam akhlaknya, ciri khasnya, furusiyyah-nya, dan segala perbuatannya. Jalan hidup al ma’adiyyah merupakan jalan hidup yang keras dan sulit dengan menjauhi bermudah-mudah dalam kesenangan hidup dan kemewahannya.

==============

Merupakan tradisi umat terdahulu untuk bersusah-susah dalam menempa kemampuan dan keahlian fisik dengan ilmu yang benar secara sempurna, yaitu jalan hidup Al Ma'addiyyah alias jalan hidup prihatin.

Mengikuti sepenuhnya dengan sekuat tenaga, jika tidak mampu maka mendekatinya, jika masih tidak mampu maka cenderung padanya.

Sikap yang serupa juga berlaku dalam mendalami semua jenis ilmu pengetahuan, lebih-lebih ilmu agama... Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian

penulis: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Pemanah Berkuda Indonesia)

Senin, 13 Juni 2016

kitab al furusiyyah


"...Dan jika meleset dari sasaran, maka jangan gelisah, jangan gundah dan jangan berputus asa dari rahmat Allah Ta'ala. Meleset dalam permainan ini lebih dicintai Allah daripada tepat dalam permainan yg lain.

Jangan mencela busurnya, panahnya, dirinya atau pembimbingnya, karena ini merupakan bentuk kezhaliman dan memancing permusuhan. Hendaknya tetap bertahan bersama panah meski masih sering meleset.

Bisa jadi sebentar kemudian yg tadinya meleset menjadi tepat, hendaknya dipahami bahwa meleset itu adalah awal dari tepatnya sasaran, kesalahan adalah awal dari perbaikan..."

(al furusiyah hal. 402, penerjemah: Abu Umar Abdillah)



Kalimat di atas adalah terjemahan dari Kitab Al-Furusiyyah Karangan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, seorang ulama besar ahli ilmu yang juga mendalami panahan.

Jumat, 10 Juni 2016



Panahan yang merupakan perpaduan kesakralan sunnah dan bagian kedisiplinan furusiyah memiliki tujuan mulia, yaitu menciptakan seorang Faris yang mahir, tangkas, berbudi luhur, beradab dan berakhlak mulia. Oleh karena itu para ulama dan ahli panahan di masa lalu menetapkan berbagai kode etik, adab, dan akhlak yang berasal dari syariat Islam yang wajib diterapkan oleh setiap Pemanah Muslim .

Setelah mengetahui 15 adab dan akhlak Pemanah Muslim secara umum, maka berikut adalah adab dan akhlak Pemanah Muslim terhadap para guru, para ahli, para senior dan rekan-rekannya sesama pemanah yang dirangkum dari berbagai kitab panahan peradaban Islam.

Adab dan Akhlak terhadap Guru, Ahli, Senior:

1. Rendah hati dan hormat dalam bersikap kepada guru, ahli, dan senior.

2. Sopan dan ramah dalam berbicara kepada guru, ahli, dan senior.

3. Memahami kebiasaan, adat istiadat, tata krama, perilaku keseharian maupun tata cara pelatihan guru, ahli, dan senior, serta berusaha menyesuaikan diri terhadap hal-hal tersebut.

4. Selama proses pelatihan, seorang pelajar harus menemui dan meminta nasihat pada para guru, ahli, dan senior.

5. Secara teratur, ia harus menyaksikan bagaimana para pemanah kelas atas memanah tanpa turut memanah juga dan berusaha keras untuk menyerap hal-hal baik dari apa yang ia lihat maupun dari pembicaraan-pembicaraan mereka.

6. Seorang pelajar baru boleh bergabung dan memanah bersama dengan para ahli dan senior apabila telah dianggap layak oleh mereka, setelah mereka melihat dan menilai tingkat kemahiran yang ditunjukkannya.

Adab dan Akhlak terhadap Rekan sesama pemanah

1. Pada saat melakukan kegiatan memanah bersama-sama, pemanah tidak boleh terlalu sering melihat pada rekannya.

2. Pada saat melakukan kegiatan memanah bersama-sama, pemanah tidak boleh mengganggu rekannya.

3. Pada saat melakukan kegiatan memanah bersama-sama, pemanah tidak boleh mengalihkan perhatian rekannya dengan cara apapun seperti mengajak berbicara atau semisalnya.

4. Tidak boleh mencela kesalahan-kesalahan rekannya atau menertawakannya, karena jika seseorang melecehkan saudara sesama Muslim karena suatu kemalangan, maka hal yang sama akan berbalik pada dirinya. Rasulullah   bersabda, “Janganlah kalian menyakiti kaum Muslimin dan janganlah melecehkan mereka dan janganlah mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka (HR At Tirmidzi).”

5. Pemanah, dan tentunya setiap Muslim dan Mukmin, harus lebih memperhatikan kesalahan dirinya sendiri dibanding mencari-cari kesalahan-kesalahan orang lain.

6. Banyak memuji Allah serta tidak boleh dengki dan iri hati terhadap keberhasilan rekan sesama pemanah.

7. Tidak boleh meremehkan keberhasilan pemanah lain dengan mengatakan, “Lumayan juga untuk seorang yang bukan pemanah sejati!” atau, “Itu suatu kebetulan!” Perilaku seperti ini adalah perilaku orang rendahan dan jahil yang tidak paham tentang kehidupan dan tidak mempunyai pengalaman nyata dalam menangani sesama manusia maupun berbagai urusan lainnya.

Semoga Bermanfaat

#akhlakdanadabpemanah
#islamicarchery
#sunnahmemanah
#panahandarisumberislam
#muslimarcher
#furusiyah
#jiwakesatria

Oleh: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Kamis, 09 Juni 2016

Ustadz Jamal In Action


Adab dan akhlak seorang pelajar ilmu panahan berdasarkan kitab Al Ghuyah Al Murami

1.      Mempersiapkan diri untuk belajar dan memposisikan diri sebagai pelajar.

2.      Rendah hati, mendengar dengan saksama, dan mematuhi apa-apa yang mendatangkan rida Allah serta Rasulullah.

3.      Memperhatikan dan menguasai secara teliti dasar-dasar panahan dan pengetahuan penting lainnya yang disampaikan oleh guru memanah.

4.      Menguasai secara menyeluruh dasar-dasar panahan dengan sempurna melalui pelatihan yang keras dan teratur.

5.      Bertekad kuat untuk mampu menarik busur dengan sempurna dan mencapai akurasi di jarak yang jauh.

6.      Bertekad kuat untuk menguasai cara menarik busur hingga anggota tubuhnya menjadi kuat untuk memanah sehingga tidak akan menyalahi berbagai kaidah dasarnya.

7.      Menjadi bijaksana dengan berlatih secara sabar, tekun, dan gigih.

8.      Berlatih secara keras, banyak, dan teratur sebagai kewajiban seorang pelajar ilmu panahan.

9.      Tidak meniru-niru seorang ahli panahan tanpa memiliki pengetahuan dasar-dasar panahan karena dengan demikian ia secara tidak sadar telah menyalahi kaidah dasar tersebut.

10.  Tidak boleh berbangga diri, merendahkan, dan memancing-mancing jika ia mengungguli orang lain.

11.  Bersikap santun, perbanyak berdiam diri, serta berperilaku baik jika ia mengungguli orang lain.

12.  Tidak mencela diri sendiri, busur, anak panah, rekan, guru, atau siapapun atas segala kegagalan dalam memanah, melainkan ia harus mencari tahu kesalahan-kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.

13.  Memahami syariat Islam tentang perlombaan, bertaruh, dan memanah yang shahih sehingga ia dapat membedakan mana yang halal dan yang haram.

14.  Memahami aturan dan regulasi berbagai perlombaan memanah yang umum diselenggarakan.

15.  Kemauan untuk selalu menuntut ilmu dan belajar meskipun sudah berusia tua, karena ahli panahan berkata bahwa berapapun banyaknya pengetahuan tentang memanah yang dikuasai seseorang dan berapapun panjang usianya, ia tidak akan pernah menguasai seluruh ilmu panahan dengan sempurna.

By: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)

Selasa, 07 Juni 2016

KEUTAMAAN BERJALAN DIANTARA DUA TARGET, DAN INILAH YANG DIKERJAKAN OLEH PARA PENDAHULU ISLAM

Telah diriwayatkan oleh Ath Thabrani dari hadits Sa'id bin Musayyib dari Abu Dzar dia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

"Barangsiapa yang berjalan antara dua target; dia mendapatkan dalam setiap langkahnya satu kebaikan."

Ibrahim At Taimi berkata: dari bapaknya: "Aku melihat Hudzaifah berlari diantara dua target di Mada`in dengan memakai baju gamis."

Al Auza'i berkata: dari Bilal bin Sa'id: "Aku bertemu kaum yang berlari diantara beberapa target, dan saling tertawa, lalu ketika malam tiba mereka menjadi rahib-rahib."

Mujahid berkata: "Aku melihat Ibnu 'Umar berlari diantara dua target, dan dia berkata: "Aku bersama dengannya." (yaitu: bersama Sunnah Nabi saw)

Dan telah kami kedepankan tadi bahwa 'Uqbah bin 'Aamir pernah berlari antara dua target sedangkan dia telah tua renta."

~Al Furusiyyah, Ibnul Qoyyim

By: Irvan Pani Abu Aqilah
Ketua KPBI (Komunitas Panahan Berkuda Indonesia)